
HONDA138 : Trenggiling atau yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai pangolin merupakan salah satu hewan paling unik dan misterius di dunia. Meskipun tampilannya menyerupai reptil karena tubuhnya bersisik, trenggiling sebenarnya adalah mamalia. Sayangnya, popularitasnya bukan karena keunikan atau peran ekologisnya, melainkan karena menjadi korban perburuan dan perdagangan ilegal yang sangat tinggi. Artikel ini akan membahas lebih dalam tentang trenggiling, mulai dari klasifikasi, ciri-ciri fisik, habitat, kebiasaan, hingga upaya pelestariannya.
1. Klasifikasi dan Jenis Trenggiling
Trenggiling termasuk dalam ordo Pholidota dan satu-satunya anggota keluarga Manidae. Ada delapan spesies trenggiling yang tersebar di Asia dan Afrika:
Trenggiling Asia:
- Manis javanica (Trenggiling Sunda) – tersebar di Indonesia, Malaysia, dan negara Asia Tenggara lainnya.
- Manis pentadactyla (Trenggiling Tiongkok)
- Manis crassicaudata (Trenggiling India)
- Manis culionensis (Trenggiling Filipina)
Trenggiling Afrika:
- Phataginus tricuspis (Trenggiling pohon Afrika)
- Phataginus tetradactyla (Trenggiling tanah Afrika)
- Smutsia gigantea (Trenggiling raksasa)
- Smutsia temminckii (Trenggiling tanah selatan)
Meskipun tersebar luas, semua spesies ini kini terancam punah, terutama akibat perburuan untuk diambil daging dan sisiknya.
2. Ciri-ciri Fisik Trenggiling
Ciri paling mencolok dari trenggiling adalah sisik keras yang menutupi tubuhnya. Sisik ini terbuat dari keratin, yaitu zat yang sama yang membentuk kuku dan rambut manusia. Sisik-sisik ini menjadi pertahanan utama trenggiling dari predator. Saat merasa terancam, trenggiling akan menggulungkan tubuhnya menjadi bola, membuat predator sulit melukainya.
Beberapa ciri fisik khas lainnya meliputi:
- Tubuh memanjang dengan panjang bervariasi, mulai dari 30 cm hingga lebih dari 1 meter tergantung spesiesnya.
- Moncong panjang dan tidak memiliki gigi.
- Lidah sangat panjang (bahkan bisa lebih panjang dari tubuhnya sendiri), digunakan untuk menangkap semut dan rayap.
- Kaki dengan cakar kuat, digunakan untuk menggali tanah atau sarang serangga.
- Tidak memiliki penglihatan yang baik, namun memiliki penciuman dan pendengaran yang tajam.
3. Habitat dan Persebaran
Trenggiling hidup di berbagai habitat, mulai dari hutan tropis, padang rumput, hingga daerah semiarid (kering). Spesies Asia lebih suka daerah hutan hujan tropis, sedangkan spesies Afrika bisa hidup di lingkungan yang lebih kering. Di Indonesia, trenggiling Sunda (Manis javanica) dapat ditemukan di Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.
Trenggiling merupakan hewan nokturnal (aktif di malam hari) dan bersifat soliter (hidup menyendiri). Mereka membuat sarang di lubang tanah, pohon berlubang, atau tumpukan daun.
4. Pola Makan dan Perilaku
Trenggiling adalah hewan insektivora, yaitu pemakan serangga, terutama semut dan rayap. Ia menggunakan indra penciumannya untuk menemukan sarang serangga, lalu mengorek sarang tersebut dengan cakarnya. Lidahnya yang panjang dan lengket sangat efektif untuk menangkap ratusan hingga ribuan semut dalam sekali makan.
Beberapa fakta menarik tentang perilaku trenggiling:
- Mereka tidak memiliki gigi, sehingga tidak mengunyah makanannya.
- Untuk membantu pencernaan, trenggiling menelan kerikil kecil yang membantu menghancurkan serangga di dalam perut.
- Mereka sangat pemalu dan sensitif terhadap gangguan, membuat mereka sulit diamati di alam liar.
5. Peran Ekologis
Trenggiling memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, khususnya sebagai pengendali populasi serangga. Seekor trenggiling dewasa dapat memakan hingga 70 juta semut dan rayap setiap tahun. Tanpa predator alami seperti trenggiling, populasi serangga bisa melonjak dan merusak hutan, pertanian, serta menyebabkan gangguan ekologis lainnya.
6. Ancaman dan Perburuan
Trenggiling disebut-sebut sebagai hewan yang paling sering diperdagangkan secara ilegal di dunia. Ada dua alasan utama mengapa hewan ini diburu:
a. Daging
Di beberapa negara Asia, seperti Tiongkok dan Vietnam, daging trenggiling dianggap sebagai makanan mewah yang melambangkan status sosial.
b. Sisik
Sisik trenggiling digunakan dalam pengobatan tradisional, terutama di Tiongkok, untuk mengobati berbagai penyakit, mulai dari masalah kulit hingga gangguan peredaran darah, meskipun tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut.
Banyak trenggiling yang diselundupkan dalam kondisi hidup atau dibunuh dan diambil sisiknya. Perdagangan ini menyebabkan populasi trenggiling menurun drastis di berbagai negara, termasuk Indonesia.
7. Status Konservasi
Semua spesies trenggiling saat ini masuk dalam daftar Appendix I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species), yang berarti perdagangan internasionalnya dilarang sepenuhnya, kecuali untuk tujuan non-komersial tertentu.
Berikut status IUCN untuk beberapa spesies:
- Manis javanica (Trenggiling Sunda) – Critically Endangered (Kritis)
- Manis pentadactyla – Critically Endangered
- Smutsia gigantea – Vulnerable (Rentan)
Di Indonesia, trenggiling dilindungi oleh undang-undang melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.106 Tahun 2018. Memburu, memperdagangkan, atau memelihara trenggiling secara ilegal dapat dikenakan sanksi pidana.
8. Upaya Pelestarian
Beberapa langkah pelestarian trenggiling yang telah dilakukan antara lain:
a. Penegakan Hukum
Pemerintah bekerja sama dengan aparat penegak hukum untuk menggagalkan penyelundupan dan menghukum pelaku perdagangan ilegal trenggiling.
b. Rehabilitasi dan Pelepasliaran
Beberapa lembaga konservasi seperti Yayasan International Animal Rescue Indonesia (IAR Indonesia) melakukan rehabilitasi terhadap trenggiling yang disita, sebelum dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya.
c. Edukasi dan Kampanye
Pendidikan publik menjadi langkah penting untuk mengubah persepsi masyarakat tentang trenggiling. Kampanye dilakukan untuk meningkatkan kesadaran bahwa hewan ini penting bagi lingkungan dan bukan komoditas dagang.
d. Kolaborasi Internasional
Negara-negara dunia, terutama yang menjadi pasar dan sumber perdagangan trenggiling, kini mulai berkolaborasi dalam penanganan kejahatan satwa liar lintas negara.
9. Kesimpulan
Trenggiling adalah hewan luar biasa yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Sayangnya, keunikan dan ketidakberdayaannya justru menjadi alasan utama ia diburu dan diperjualbelikan. Kini, trenggiling berada di ambang kepunahan akibat ulah manusia.
Melindungi trenggiling bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies, tetapi juga menjaga ekosistem yang lebih luas. Setiap individu dapat berkontribusi dalam pelestarian trenggiling, mulai dari tidak membeli produk satwa liar, mendukung organisasi konservasi, hingga menyebarkan informasi yang benar.
Mari kita jaga trenggiling, si penjaga hutan bersisik, agar tetap hidup dan lestari di alam Indonesia dan dunia.