
HONDA138 : Asia Tenggara dikenal sebagai rumah bagi banyak hewan eksotis yang tidak ditemukan di tempat lain. Salah satu yang paling unik namun jarang dikenal adalah Sunda Colugo (Galeopterus variegatus), yang sering disebut Kubung atau Flying Lemur.
Meskipun dijuluki “lemur terbang,” sebenarnya Colugo bukanlah lemur dan juga bukan kelelawar. Hewan ini merupakan mamalia arboreal (hidup di pohon) yang memiliki kemampuan meluncur luar biasa, menjadikannya salah satu hewan meluncur paling efisien di dunia. Sayangnya, popularitas Sunda Colugo masih kalah dibanding satwa lain, padahal perannya dalam ekosistem hutan tropis sangat penting.
Ciri Fisik
Sunda Colugo memiliki tubuh ramping dengan panjang sekitar 34–38 cm dan berat 0,9–1,3 kg. Tubuhnya ditutupi bulu halus berwarna abu-abu kecokelatan atau kehijauan, dengan pola samar yang membantunya berkamuflase di pepohonan.
Ciri paling khas adalah adanya selaput kulit besar yang disebut patagium. Selaput ini membentang dari leher, sepanjang sisi tubuh, hingga ke ujung ekor dan bahkan ke jari-jari kaki. Berbeda dengan tupai terbang yang hanya memiliki selaput di sisi tubuh, patagium Colugo menutupi hampir seluruh tubuh, sehingga membentuk semacam “sayap parasut.”
Dengan selaput ini, Colugo bisa meluncur hingga 100–150 meter dari satu pohon ke pohon lain, dengan kehilangan ketinggian yang sangat sedikit. Inilah yang membuatnya dianggap sebagai peluncur terbaik di antara mamalia.
Mata Sunda Colugo besar dan bulat, memungkinkan penglihatan baik di malam hari karena hewan ini aktif pada waktu nokturnal.
Habitat dan Persebaran
Sunda Colugo tersebar luas di Asia Tenggara, terutama di:
- Indonesia: Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan beberapa pulau kecil.
- Malaysia: Semenanjung Malaysia dan Sabah-Sarawak.
- Singapura: Masih bisa dijumpai di hutan alam tersisa.
- Thailand: Bagian selatan dengan hutan tropis lebat.
Habitat utamanya adalah hutan hujan tropis dataran rendah, meski terkadang juga dijumpai di perkebunan atau area hutan sekunder. Mereka sangat bergantung pada pepohonan besar untuk tempat tinggal dan pergerakan.
Perilaku dan Pola Hidup
- Aktivitas harian
Sunda Colugo adalah hewan nokturnal. Pada malam hari mereka aktif mencari makan, sedangkan siang hari beristirahat dengan menempel diam di batang pohon, berkamuflase dengan kulit kayu. - Makanan
Mereka termasuk herbivora. Makanan utama berupa daun muda, tunas, bunga, dan kadang buah. Meski tampak sederhana, pola makan ini membuat mereka berperan penting dalam menjaga siklus tumbuhan hutan. - Kemampuan meluncur
Saat berpindah pohon, Colugo tidak melompat, melainkan meluncur dengan membentangkan patagium. Gerakan meluncur ini efisien dan membantu mereka menghindari predator. - Sistem sosial
Colugo lebih sering hidup soliter, meski kadang terlihat dalam kelompok kecil. Mereka berkomunikasi dengan suara bernada tinggi yang sulit didengar manusia.
Reproduksi dan Perkembangan Anak
Proses reproduksi Sunda Colugo cukup unik. Masa kehamilan berlangsung sekitar 60 hari, dan betina biasanya melahirkan satu anak.
Anak Colugo lahir dalam keadaan belum berkembang sempurna, mirip dengan marsupialia (seperti kanguru). Betina akan membawa anaknya dalam lipatan patagium yang berfungsi seperti kantong, sehingga memberi perlindungan layaknya marsupial. Anak tersebut akan tetap menempel pada induk selama berbulan-bulan hingga cukup kuat untuk meluncur sendiri.
Cara pengasuhan ini menunjukkan bahwa meskipun Colugo bukan marsupial, mereka memiliki strategi reproduksi yang mirip.
Peran Ekologis
Keberadaan Sunda Colugo sangat penting bagi ekosistem hutan Asia Tenggara. Sebagai pemakan daun dan bunga, mereka membantu dalam proses:
- Pengendalian vegetasi: Mencegah tumbuhan tertentu tumbuh berlebihan.
- Penyebaran biji dan polinasi tidak langsung: Meski bukan penyerbuk utama, perpindahan Colugo antar pohon membantu distribusi bagian tanaman.
- Indikator kesehatan hutan: Populasi Colugo yang stabil menunjukkan ekosistem hutan masih terjaga.
Status Konservasi
Menurut IUCN Red List, Sunda Colugo dikategorikan sebagai Least Concern (LC) atau berisiko rendah. Namun, status ini bukan berarti mereka aman sepenuhnya.
Ancaman utama meliputi:
- Deforestasi – penggundulan hutan untuk perkebunan sawit, karet, atau pemukiman.
- Perburuan – meski jarang, sebagian masyarakat memburu Colugo untuk diambil daging atau bulunya.
- Fragmentasi habitat – hutan yang terpecah membuat Colugo sulit berpindah antar area.
- Kurangnya kesadaran – hewan ini jarang dikenal, sehingga upaya perlindungan sering terabaikan.
Jika laju deforestasi terus berlanjut, populasi Colugo bisa mengalami penurunan drastis di masa depan.
Hubungan dengan Masyarakat Lokal
Di beberapa daerah, masyarakat lokal menyebut Colugo dengan nama Kubung. Ada yang menganggapnya hewan biasa tanpa nilai penting, ada pula yang memandangnya sebagai makhluk mistis karena kemampuan meluncurnya yang luar biasa.
Sayangnya, karena pengetahuan tentang Colugo masih minim, keberadaan mereka sering tidak dianggap prioritas dalam konservasi. Padahal, Colugo bisa dijadikan ikon ekowisata unik, terutama di kawasan hutan hujan Asia Tenggara.
Fakta Menarik tentang Sunda Colugo
- Meskipun disebut “Flying Lemur,” Colugo bukan lemur dan tidak bisa terbang, hanya meluncur.
- Mereka termasuk dalam ordo Dermoptera, kelompok mamalia kecil yang hanya berisi dua spesies yang masih ada: Sunda Colugo dan Philippine Colugo.
- Colugo bisa meluncur dengan kehilangan ketinggian hanya sekitar 10 meter per 100 meter jarak tempuh – lebih efisien dibanding tupai terbang.
- Selaput patagium Colugo adalah yang terluas dibanding mamalia lain, menutupi hampir seluruh tubuh.
- Anak Colugo dirawat dengan cara digendong dalam patagium, mirip bayi kanguru.
Upaya Konservasi
Melestarikan Sunda Colugo membutuhkan langkah-langkah berikut:
- Melindungi hutan tropis – menjaga habitat alami mereka dari pembalakan liar dan ekspansi perkebunan.
- Pendidikan masyarakat – meningkatkan kesadaran bahwa Colugo memiliki peran penting dalam ekosistem.
- Riset ilmiah – masih banyak aspek perilaku Colugo yang belum dipahami, terutama ekologi reproduksi dan pergerakan mereka.
- Ekowisata berkelanjutan – menjadikan Colugo sebagai daya tarik wisata alam dapat memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal sekaligus menjaga habitat.
Kesimpulan
Sunda Colugo adalah salah satu hewan paling unik di Asia Tenggara. Dengan kemampuan meluncur luar biasa, tubuh yang dilengkapi selaput luas, serta gaya hidup arboreal, Colugo benar-benar berbeda dari mamalia lainnya. Meski sering disebut “lemur terbang,” ia bukanlah lemur maupun kelelawar, melainkan bagian dari kelompok kuno mamalia Dermoptera.
Keberadaannya penting bagi ekosistem hutan tropis, tetapi ancaman deforestasi membuat populasinya rentan. Karena itu, upaya konservasi harus lebih diperkuat, bukan hanya demi Colugo, melainkan juga untuk kelestarian hutan Asia Tenggara secara keseluruhan.
Dengan mengenal lebih dekat Sunda Colugo, kita belajar bahwa alam masih menyimpan banyak misteri. Hewan yang tampak sederhana ternyata memegang peran besar dalam keseimbangan lingkungan. Melestarikan Colugo berarti melestarikan hutan, udara, dan kehidupan itu sendiri